Pemalangan Bertentangan dengan Adat dan Budaya, Lembaga Adat Wulanderi Akan Membuka Akses Jalan ke GNI

BERITA585 Dilihat

Pemalangan Bertentangan dengan Adat dan Budaya, Lembaga Adat Wulanderi Akan Membuka Akses Jalan ke GNI

BUNTA- Lembaga Adat Wulanderi mengecam pemalangan jalan umum yang dilakukan M Yahya di Desa Bunta, Petasia Timur, Kabupaten Morowali Utara sejak 15 April lalu. Pemalangan jalan ini dinilai telah melanggar norma adat-istiadat dan budaya yang di anut masyarakat setempat.

Ketua Lembaga Adat Wulanderi Drs. Julius Pode MM mengatakan pemalangan jalan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat terhadap terhadap akses jalan menuju PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) tersebut telah menyusahkan masyarakat Bunta, khususnya warga lokal.

“Kami Masyarakat adat Desa Bunta menyatakan sangat keberatan atas aksi tersebut sebab tidak sesuai dengan norma dan budaya kehidupan masyarakat adat yang selama ini dianut oleh Masyarakat adat Wita Mori,” ujarnya, Minggu (17/4/2022).

Julius Pode mengatakan jalan yang menuju Tambaole dan Bungini tersebut sejak dahulu telah terbangun dan menjadi sumber kehidupan masyarakat Bunta, walaupun jalan tersebut masih setapak, berlubang, dan berlumpur. Pelamangan ini bertentangan dengan adat dan budaya masyarakat Bunta khususnya Suku Mori yang menganut prinsip “mompelangkai” yang artinya menghargai dan menghormati setiap orang dan tidak menyusahkannya.

“Ini bentuknya kekerasan yang mengintimidasi masyarakat, menghalang-halangi, merintangi kehidupan ribuan pencari nafkah dengan adanya Pemalangan ini menurut kami tidak berperikemanusiaan. Banyak hal yang dirugikan, ribuan orang susah mencari nafkah (akibat pemalangan ini), sedangkan jalan itu dari dulu jalan itu sudah ada tempat kita mencari ikan, tempat kita mencari bahan bangunan, mecari rotan, berburu ‘bingkaro’ dan lain lain,” ujarnya.

Ia mengatakan adat-istiadat WITA Mori adalah saling tolong menolong dan saling membantu, sesuai dengan moto ‘tepo asa aroa’ yang berarti satu hati kita dalam kebaikan. Masyarakat adat tidak pernah membeda bedakan warga yang bermukim di wilayah setempat. “Siapa saja kalau sudah mengintimidasi seperti ini berarti dia tidak menghargai adat kita, ini akan menimbulkan perpecahan. Kepentingan umum tolong jangan dihalangi itu yang kami mau perjuangkan,” jelasnya.

Sementara itu Sekretaris lembaga Adat Wulanderi Seprianus Nggaluku mengatakan dampak dari pemalangan jalan tersebut sangat berpengaruh pada perekonomian dan menimbulkan kerugian besar untuk masyarakat Desa Bunta, oleh karena itu pihaknya meminta kepada pihak pemerintah Daerah Kabupaten Morowali Utara dan penegak hukum untuk membuka kembali akses jalan utama menuju PT GNI tersebut.

“Apabila permintaan kami ini tidak di indahkan, maka kami Lembaga Wulanderi menegaskan akan melakukan aksi dan membuka akses jalan menuju PT GNI,” tegasnya. (Rudini/Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *