Bangunan Lantai 2 SD GKST Tidak Digunakan, Potret Proyek Amburadul di Morut.

BERITA573 Dilihat

MORUT- Sekolah adalah tempat para siswa belajar, bermain dan mengekspresikan kemampuannya. Datang ke sekolah bertemu dengan teman tentu membuat hati para siswa riang gembira.

Memiliki bangunan yang layak, adalah harapan semua guru, para orang tua didik yang menyekolahkan anaknya.

Jumlah murid yang bertambah membuat pemerintah daerah Kabupaten Morowali Utara menambah bangunan lantai 2 SD GKST. Namun harapan sekolah bangunan ini bisa bermanfaat, pupus menjadi rasa was-was karna kualitas bangunan yang di khawatirkan roboh, sehingga tidak di gunakan.

Keputusan pihak sekolah tidak menggunakan lagi bangunan lantai 2 ini sejak plafon sekolah roboh. Khawatir akan keselamatan murid-murid, sistem belajar pagi dan sore pun kembali dilakukan.

Senin pagi, 03 Juli 2023 jurnalis media ini yang juga adalah orang tua siswa, datang ke SD GKST mengantar anak masuk sekolah dan bertemu pihak sekolah.

“Kami sangat mengharapkan pada pemerintah Daerah agar sekolah kami juga di perhatikan, dengan ini kepala dinas Pendidikan, Jumlah murid kami kurang lebih 200 siswa,” ungkap Kepsek Herlice Bamba (3/7)

Bangunan lantai 2 ini terkesan asal kerja. Mulai dari cor bangunan yang tidak baik, penempatan tangga yang dinilai tidak sesuai, hingga sejumlah persoalan tehnis yang mengkhawatirkan. Hanya terlihat megah dari kejauhan. SD GKST yang lokasinya persis bersebelahan dengan kantor kejaksaan Kolonodale dan Rumah jabatan Bupati Morut ini, menjadi sorotan.

Apa yang di ungkapkan oleh kepala sekolah ini. Menggambarkan kerisauan pendidik akan kondisi bangunan. Ini juga menegaskan carut marutnya proyek di kabupaten Morowali Utara. Sejumlah bangunan sekolah gagal memenuhi harapan masyarakat. Pekerjaan yang dilakukan lebih berorientasi pada proyek yang mencari keuntungan, mengabaikan kualitas bangunan.

Potret yang sangat memilukan bagi kita. Kepedulian dan mengedepankan hati nurani penting bila para pemimpin di daerah benar ingin berbuat untuk daerah.

Sebab yang terjadi, bukan membangun Morowali Utara. Tapi para pemimpin daerah membangun di Morowali Utara. Pasca memimpin, jumlah asset lahan sampai bangunan mereka bertambah dan megah, tak sebanding dengan apa yang mereka buat untuk daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *