Cerita Perjalanan Karir Politik Jeffisa Putra

BERITA522 Dilihat

Palu- Perjalanan karir politik Jeffisa Putra Amrullah berawal dari secangkir kopi hingga mengantarnya duduk di kursi DPRD Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah.

Pria akrab disapa Bung Jeff ini meyakini warung kopi (warkop) tak hanya sekedar menjadi tempat menyeruput kopi, melainkan juga sarana bertukar pikiran.

Lambat laun warkop kemudian menjadi ruang diskusi yang terus tumbuh dan mekar. Terlebih setiap perhelatan pemilu, penikmat kopi riuh berdiskusi maupun berdebat soal visi, misi, program dan kapabilitas figur-figur yang dicalonkan.

Saat pemilihan legislatif (pileg) Morut 2019, Jeff teringat dirinya sering dijuluki ‘caleg warkop’ dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

“Saya dulu dijuluki ‘caleg warkop’. Waktu pertama maju tahun 2019 itu memang kami rancang di warkop, siapa nih yang didorong itu maju. Dari diskusi dengan teman-teman meminta saya untuk maju. Jadi anak warkop lah yang ikut membantu,” ucapnya saat ditemui, Senin (22/1/2024).

Dalam proses pemilihan, Jeff berhasil terpilih sebagai Anggota DPRD Morut periode 2019 – 2024 daerah pemilihan (dapil) 1 yang meliputi Kecamatan Petasia, Petasia Barat dan Petasia Timur.

Namun belum genap 5 tahun menjabat, ia memutuskan mundur dari jabatannya. Sehingga warkop betul-betul menjadi tempat berawal dan berakhirnya karir Jeff sebagai legislator.

“Kurang lebih 4 tahun menjalani, saya berdiskusi lagi dengan teman-teman tentang kondisi DPRD. Jadi saya awali maju pileg dan mengakhirinya di warkop,” ungkap Jeff.

Mundur sebagai anggota legislatif, Jeff saat ini memantapkan diri untuk bertarung di Pilkada Morut 2024 mendatang.

Niatan untuk maju menjadi bakal calon Bupati Morut ini juga berawal dari diskusi di warkop. Namun pada pileg 2024, ia tetap terdaftar sebagai caleg DPRD Morut nomor urut 1 dari PKB.

Jeff mengklaim telah menyiapkap konsep pembangunan Morut di masa mendatang khususnya di sektor pariwisata.

Dirinya tak menampik bahwa Morowali Utara menjadi salah satu daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia.

Akan tetapi, menurut Jeff, pertumbuhan industri pengolahan bijih nikel atau smelter sudah menjadi wewenang pemerintah pusat melalui Proyek Strategis Nasional (PSN).

“Yang mendasari saya untuk maju adalah konsep bagaimana untuk memajukan Morut ke depan, bukan berarti saat ini tidak baik. Saya ingin memaksimalkan potensi pariwisata di Morut. Tidak lagi bicara sektor industri yang sudah menjadi program nasional,” terangnya.

Jeff mencontohkan destinasi wisata Teluk Tomori. Namun tempat yang dianggap sebagai surga tersembunyi di Morut ini kerap dipenuhi sampah. Keindahannya tak bisa lagi dirasakan, dinikmati dan dihayati secara sempurna.

“Masalah kebersihan di lokasi-lokasi destinasi harus betul-betul diperhatikan. Ada beberapa situs di Teluk Tomori yang bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata, ada situs Tapak Tangan, Air Terjun Mataruttung dan lainnya. Teluk Tomori itu kelihatannya bersih, tetapi ketika diseberangi ternyata sampahnya banyak,” ujarnya.

“Khusus Teluk Tomori, langkah awal mungkin bisa komunikasi dengan kementerian agar diizinkan pesawat landing minimal jenis Cessna. Fasilitas harus dibangun agar menarik kedatangan wisatawan asing. Kita bisa buat event internasional di sana,” imbuh Jeff.

Kemudian, Jeff menginginkan agar pelayanan lembaga di bidang pendidikan dan kesehatan lebih mengutamakan tindakan daripada keperluan administrasi.

Ia menganggap siswa-siswa berprestasi jenjang SMA/sederajat selama ini jarang mendapat apresiasi dari pemerintah kabupaten.

Selain itu, kata dia, usulan bantuan yang diajukan pihak sekolah pun jarang direspons karena alasan SMA menjadi tanggung pemerintah provinsi.

“Seperti halnya kesehatan, mengutamakan tindakan daripada administrasi itu penting. Pendidikan pun seperti itu. SMA tetap membawa nama baik daerah, baik guru ataupun muridnya. Jangan sampai tidak ada apresiasi. Banyak guru-guru cerita usulan yang diminta itu tidak diamini. Tidak boleh begitu, daerah harus hadir di tengah kesulitan masyarakat,” kata Jeff menambahkan.

Jika mendapat kepercayaan untuk memimpin Morut, Jeff mengaku tidak ingin terlalu banyak menggunakan fasilitas yang diberikan kepada kepala daerah.

Dirinya tidak ingin adanya rumah jabatan (rujab). Jeff berniat agar rujab disulap menjadi rumah singgah yang menyiapkan makanan untuk masyarakat.

“Tidak ada rujab bupati. Rujab dijadikan rumah singgah, 1 kali 24 jam makanan ready. Siapa saja boleh singgah makan. Kemudian mobil dinas menjadi mobil jenazah, gratis tidak ada bayar. Itu wajib. Mungkin satu-satunya mobil DN 1 jadi mobil jenazah nantinya hanya di Morut. Jika saya diberi kepercayaan menjadi bupati, Insya Allah saya tidak banyak menggunakan fasilitas daerah,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *